Istilah pailit dan bangkrut barangkali sudah cukup familiar di telinga Anda. Biasanya, kedua istilah tersebut digunakan berkaitan dengan penutupan sebuah bisnis, sehingga tak heran kalau masyarakat – bahkan mungkin termasuk Anda juga – sering beranggapan bahwa pailit sama dengan bangkrut. Padahal, sebenarnya pailit dan bangkrut adalah dua istilah yang berbeda, lho!

Lantas, apa perbedaan antara pailit dan bangkrut, ya? Untuk membantu Anda memahami definisi sesungguhnya serta perbedaan antara kedua istilah tersebut, Anda bisa simak ulasan berikut ini. Selamat membaca dan semoga informasinya bermanfaat, ya!

Pengertian Pailit dan Bangkrut

Berdasarkan aspek kebahasaan, kata pailit berasal dari bahasa Prancis – failite. Jika diterjemahkan, failite memiliki arti terjadinya kemacetan dalam proses pembayaran. Karena itu, istilah tersebut kemudian diserap menjadi pailit dan berarti kondisi di mana seorang debitur atau pihak yang memiliki utang mengalami kesulitan keuangan dalam membayar utang-utangnya. Keputusan pailit ini tidak bisa diputuskan sendiri oleh bisnis, dan hanya bisa dinyatakan oleh pengadilan, tepatnya pengadilan niaga.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kepailitan merupakan persoalan terkait dengan ketidakmampuan debitur dalam membayar utangnya. Hal ini juga dituangkan ke dalam UU No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, yang menjelaskan bahwa pailit bisa dijatuhkan kepada debitur jika memenuhi kondisi-kondisi berikut:

  1. Debitur memiliki dua kreditur atau lebih.
  2. Debitur tidak membayar lunas minimalnya satu utang yang sudah jatuh tempo dan bisa ditagih.
  3. Debitur mengajukan kepailitan atas permohonan sendiri maupun atas permohonan krediturnya, satu atau lebih.

Sementara itu, bangkrut merupakan istilah yang digunakan untuk menunjukkan keadaan di mana sebuah perusahaan menderita kerugian dalam jumlah yang sangat besar dan memengaruhi keberlangsungannya, alias jatuh atau kolaps. Artinya, istilah bangkrut adalah persamaan kata atau sinonim dari gulung tikar, dengan penyebab utamanya adalah kerugian yang dialami perusahaan dan mengakibatkan kondisi keuangan yang tak sehat.
Dengan demikian, Anda juga bisa simpulkan bahwa sebuah bisnis dapat dinyatakan bangkrut karena performanya yang buruk dan berdampak pada kondisi keuangan yang tidak sehat. Sementara itu, sebuah perusahaan bisa dinyatakan pailit meskipun kondisi keuangannya sehat lantaran kegagalannya dalam membayar utang.

Penyebab Pailit dan Bangkrut

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, perusahaan memenuhi syarat untuk dipailitkan apabila perusahaan punya setidaknya dua utang yang belum dibayarkan. Kepailitan sendiri biasanya diakibatkan oleh:

  • Ketidakmampuan perusahaan dalam menangkap kebutuhan konsumen.
  • Fokus yang berlebihan pada pengembangan produk tertentu.
  • Adanya rasa takut yang berlebihan hingga perusahaan gagal melayani kebutuhan konsumen.
  • Tak lagi melakukan inovasi pada produk.
  • Tidak peka dalam memahami perubahan tren, kondisi pasar, hingga pergerakan kompetitor.
  • Harga produk yang terlalu mahal.
  • Adanya tanggungan utang yang jadi penyebab utama pailit, misalnya utang yang terlalu tinggi tanpa perhitungan yang cermat, terutama terkait dengan rencana pembayaran utang tersebut.

Sedangkan untuk kebangkrutan, perusahaan yang dinyatakan bangkrut umumnya menunjukkan tanda-tanda baik di level operasional maupun manajerial. Di samping itu, rendahnya pertumbuhan ekonomi juga bisa menjadi indikator penting dalam pelemahan bisnis.
Apabila mengacu pada sidang Mahkamah Konstitusi (MK) pada Perkara No. 18/PUU-VI/2008, kebangkrutan diakibatkan oleh dua faktor utama berikut ini:

  1. Faktor eksternal yang berada di luar kewenangan bisnis. Contohnya penutupan sejumlah bank di Indonesia yang memiliki dampak signifikan bagi para pengusaha hingga buruh.
  2. Adanya kesalahan mengelola bisnis.

Mencegah Terjadinya Pailit dan Bangkrut

Meskipun pailit dan bangkrut adalah dua risiko penting yang berbahaya, keduanya bisa dihindari sejak dini, kok. Dan walaupun keduanya sebenarnya adalah dua istilah untuk menggambarkan dua situasi yang berbeda, ada beberapa langkah yang dapat Anda terapkan untuk menghindari keduanya secara bersamaan, seperti:

  • Menerapkan manajemen keuangan bisnis yang baik dan cermat.
  • Tidak mudah iri dengan perkembangan bisnis kompetitor.
  • Pemisahan antara aset milik pribadi dengan aset milik bisnis, termasuk uang tunai.
  • Penerapan strategi bisnis yang efektif dan efisien berdasarkan situasi yang dihadapi dan karakteristik unik perusahaan.
  • Cermat dalam mengambil keputusan penting terkait dengan bisnis dengan pertimbangan yang matang.